Tuesday, September 5, 2017

WAKTU TRADING FOREX PALING BERBAHAYA



Sebagai trader, tentunya Anda tahu bahwa waktu trading forex bisa kapan saja dalam kurun waktu 24 jam, 5 hari seminggu. Trader pun dapat menentukan sendiri apakah akan bertransaksi di pagi hari, siang, ataupun malam. Namun, apakah Anda tahu akan adanya saat-saat berbahaya untuk bertrading forex? Pada momen-momen ini sangat riskan untuk melakukan open posisi, sehingga trader harus memiliki kewaspadaan tinggi.



Menjelang Penutupan Pasar Akhir Pekan
Detik-detik menjelang penutupan pasar pada Sabtu dini hari (waktu Indonesia Barat) menjadi momok bagi sebagian trader, sehingga banyak yang memilih untuk "tutup toko" saja di hari Jumat. Pasalnya, pergerakan harga menjelang penutupan pasar disinyalir susah dilacak.
Lebih dari itu, open posisi yang dilakukan terlalu dekat dengan waktu penutupan pasar berpotensi floating hingga hari Senin, melewati libur akhir pekan. Padahal, dalam masa itu dimungkinkan terjadi perkembangan-perkembangan mengejutkan yang mengakibatkan munculnya gap besar di awal pekan berikutnya. Target Profit (TP) maupun Stop Loss (SL) bisa gampang ter-trigger; apalagi kalau tidak pasang SL, maka Margin Call pun di depan mata. Mengingat pergerakan ke depan susah dipetakan, maka banyak trader menghindari waktu trading forex ini.
Namun demikian, bukan berarti tabu bertrading atau membiarkan posisi floating di masa-masa tersebut. Trader yang sengaja "pasang jebakan" untuk profit dari gap yang akan muncul di hari Senin pun ada saja. Waktu trading forex manapun pada dasarnya mengandung risiko tersendiri. Pahami saja bahwa jika Anda siap bertrading dengan risiko lebih tinggi, maka potensi profit pun semestinya lebih menggiurkan.

Menjelang Event Terkait Situasi Politik Suatu Negeri
Tahun 2016 dan 2017 diramaikan oleh banyak sekali event semacam ini, ditandai dengan tajuk "referendum" dan "pemilu". Karakteristik event politik adalah momennya tak bisa dipastikan, berbeda dengan rilis data ekonomi yang sudah terjadwal pada kalender forex. Dan biarpun para analis sudah memproyeksinya apa dampaknya bila kubu X mengalahkan Y, tetapi saja pergerakan harga spontan di pasar bisa berlawanan karena adanya faktor euforia.
Ambil contoh Pemilu Presiden AS tahun 2016 lalu. Jauh-jauh hari, para analis memperingatkan bahwa apabila Donald Trump terpilih maka akan memunculkan sederetan bahaya dan ketidakpastian. Namun, segera setelah ia mengalahkan Hillary Clinton, Dolar malah melejit kuat...dan baru sekitar sebulan setelahnya pasar kembali ingat kalau Trump merupakan ancaman bagi stabilitas ekonomi AS maupun Dunia.
Tak hanya event terkait politik. Sebagian trader pun akan menghindari waktu trading forex kapan saja yang berhubungan dengan rilis data ekonomi berpotensi dampak besar. Daripada terlindas volatilitas sesaat, lebih baik cari kesempatan di waktu trading forex lainnya.
Akan tetapi, hanya karena banyak yang menghindarinya dan menilai momen-momen tertentu sebagai waktu trading forex paling berbahaya, tak lantas berarti mustahil untuk profit. Nyatanya, ada juga golongan berjuluk News Trader yang justru sengaja mengincar momen perilisan data ekonomi berdampak tinggi.

Setelah Menang Besar
Apakah Anda termasuk orang yang mengalami loss segera setelah menang besar? Anda tak sendiri. Sindrom ini diderita oleh banyak sekali trader, khususnya pemula. Akar masalahnya ada pada kepercayaan diri berlebihan dan "nafsu" untuk mengejar profit lebih besar lagi.
Lalu, apakah sebaiknya kita stop trading setelah menang besar? Bukan begitu juga. Hanya saja, emosi diri yang hanyut terbawa kegirangan itu perlu dikendalikan jika Anda ingin menjadi trader sukses.
Agar tak terperosok dalam perangkap emosi, sudah banyak sekali artikel di Tutorial Forex Lengkap  menekankan perlunya rencana trading (trading plan). Dengan rencana trading tersebut, Anda diharapkan sudah memiliki sistem trading tertentu dan tidak menyimpang dari aturan-aturan entry, exit, maupun risk/reward ratio di dalamnya. Tak peduli Anda akan bertransaksi di waktu trading forex paling menguntungkan ataupun paling berbahaya, rencana trading akan berperan sebagai "filter" dari mana Anda bisa menyaring apakah suatu peluang trading itu benar-benar potensial atau justru sebaiknya dilewatkan.

CARA EXIT YANG OBYEKTIF



Menentukan kapan harus exit adalah hal yang cukup krusial dalam trading. Anda entri dan harga telah bergerak sesuai prediksi, Anda telah memperoleh profit. Kemudian harga bergerak berbalik arah, dan Anda panik. Mungkin Anda pernah mengalami kejadian seperti itu, atau ketika Anda telah mendapatkan profit dan Anda memutuskan untuk exit, tetapi ternyata pergerakan harga terus melaju sementara Anda telah meninggalkan arena.



Seperti halnya dalam permainan catur, Anda mesti bisa mengantisipasi keadaan agar tidak salah dalam melangkah. Kejadian seperti itu sangat sering dialami trader forex, baik yang trading dengan cara mechanicalataupun yang discretionary. Lalu apakah hal tersebut merupakan bagian dari trading atau ada cara tertentu agar kita bisa exit dengan benar? Cara exit yang pasti benar tidak ada, seperti juga cara entri yang pasti. Jawaban yang logis adalah Anda harus obyektif. Artinya Anda menyesuaikan dengan kondisi pasar dan tidak emosional. Gunakan cara analisa sesederhana mungkin dan tidak kompleks.

Banyak trader yang mengalami kesulitan dalam menentukan waktu yang tepat untuk exit. Ada yang menganggap sepele dan asal exit (yang penting profit), tetapi ada juga yang melakukan analisa berlebihan hingga sering ragu-ragu ketika hendak keluar dari pasar. Trader yang berpengalaman berpendapat bahwa cara exit bisa membedakan antara seorang pemenang dan pecundang, lebih signifikan dari cara entri. Ada analis yang akurasi prediksinya 80% selalu benar, tetapi ketika ia benar-benar trading tidak bisa menghasilkan profit yang konsisten karena cara exit-nya yang sering kali amburadul.

Mengubah pandangan dan pemahaman exit dalam trading
Mungkin Anda berpikir bahwa exit bisa dilakukan kapan saja, yang penting stop loss tidak kena. Dalam hal ini mungkin Anda bisa profit tetapi telah mengabaikan money management, atau memang Anda tidak menggunakannya. Jika Anda bertahan dengan cara trading seperti ini maka sulit menghasilkan profit yang konsisten dalam jangka panjang, karena dari awal Anda tidak merencanakan perbandingan antara resiko dan perolehan (reward) yang ingin Anda capai.

Anda tidak tahu pasti berapa persen account Anda akan berkurang jika Anda rugi dan berapa persen akan bertambah jika profit. Jadi Anda trading secara acak, kadang bisa profit dan kadang bisa loss dengan tanpa ukuran yang pasti. Gaya trading semacam ini biasanya tidak bertahan lama karena profit yang diperoleh cenderung lebih sedikit dari kerugian yang dialami. Anda lebih fokus untuk menghindari resiko daripada memperoleh profit.

Exit memang bagian yang tidak terpisahkan dalam proses trading, dan ditentukan bersamaan dengan saat entri. Anda seharusnya tidak exitsebelum level target Anda tercapai. Jika target profit belum tercapai berarti permainan belum selesai. Untuk memperoleh profit yang konsisten Anda mesti menentukan target profit yang pasti, dan agar diperoleh hasil yang efektif, Anda bisa menerapkan risk or reward ratio lebih besar dari 1:1, bisa 1:1.5 atau 1:2.

Sebelum menentukan risk or reward, Anda mesti obyektif melihat kondisi pasar dan trend pergerakan harga. Gunakan cara analisa sesuai metode dan strategi trading Anda. Mungkin Anda menggunakan indikator teknikal atau hanya mengacu pada price actionuntuk memprediksi trend guna menentukan level stop loss dan level exit. Jika ternyata kemungkinan risk or reward ratio terbaik hanya 1:1, maka sebaiknya tidak entri pada pasangan mata uang tersebut. Pilih pasangan lain atau tunggu hingga kondisi pasar benar-benar memungkinkan. Cara exit yang obyektif berarti logis, sesuai dengan kondisi pasar dan tidak emosional.

Tentu saja Anda bisa menerapkan berbagai variasi untuk memaksimalkan profit seperti teknik trailing stop, averaging dan lainnya, tetapi penggunaan money management dan cara menentukan exit yang obyektif sangat dianjurkan untuk memperoleh hasil trading yang konsisten.

Sunday, September 3, 2017

MENGANTISIPASI PERGERAKAN DALAM PASAR FOREX



Kita sering mengamati perubahan pergerakan harga yang tajam seperti yang terjadi akhir-akhir ini, tetapi banyak trader yang kurang bisa memanfaatkan keadaan tersebut dengan buru-buru exit ketika harga tampak berbalik arah karena khawatir akan mengalami kerugian besar, tetapi ternyata harga terus bergerak sesuai dengan arah trend. Seperti sering diungkapkan oleh para trader berpengalaman, untuk memperoleh keuntungan yang konsisten dibutuhkan upaya yang konsisten dalam mengantisipasi pergerakan pasar untuk mendapatkan keuntungan yang besar.

Sering kali koreksi atau retracement membuat khawatir trader sehingga mempengaruhi keadaan mentalnya, meskipun antisipasinya sudah benar. Salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan tidak berbuat apa-apa (do nothing) setelah entry, yang artinya menahan posisi trading lebih lama. Sebuah kenyataan dalam trading forex adalah jika Anda ingin memperoleh keuntungan besar Anda harus mempunyai sikap mental yang berani menahan posisi trading lebih lama dari yang Anda perkirakan. Banyak trader yang ingin memperoleh keuntungan dengan cepat sehingga tidak sabar untuk segera merealisasikannya.

Hal tersebut mungkin berbeda ketika trader masih menggunakan account demo. Sering kali trader menahan posisi selama beberapa hari bahkan beberapa minggu dan berakhir dengan profit yang cukup besar. Pada account demo trader cenderung jarang melakukan intervensi karena tidak melibatkan dana riil, sehingga ide-ide trading yang telah direncanakan sebelumnya bisa dijalankan dengan baik. Inilah yang menyebabkan mengapa hasil trading pada account demo jauh lebih baik dari account riil.

Ketika trading pada account riil trader akan cenderung melakukan intervensi pada posisi trading yang masih terbuka karena menyangkut dana riil dan mereka kurang mengantisipasi kemungkinan terjadinya pergerakan trend yang kuat. Hal inilah yang menyebabkan keuntungan yang diperoleh tidak maksimal. Trading sangat berhubungan dengan pengendalian sikap mental. Ketika harga bergerak berlawanan dengan posisi trading Anda, bagaimana reaksi Anda, dan ketika harga bergerak sesuai dengan yang Anda harapkan dengan keuntungan yang lumayan, bagaimana reaksi Anda?

Rasa khawatir yang berlebihan akan menyebabkan Anda exit begitu mengalami kerugian kecil, belum sampai menyentuh stop loss yang telah Anda tentukan sebelumnya, demikian pula ketika Anda exit sebelum harga mencapai level keuntungan yang telah Anda targetkan. Kekhawatiran telah mengendalikan Anda sehingga merusak antisipasi dan rencana trading Anda. Salah satu kekuatan Anda dalam trading adalah kemampuan untuk bisa bersabar dan tetap bekerja sesuai dengan rencana. Hindari untuk mengintervensi pasar dengan do nothing, biarlah pasar bekerja untuk Anda.

Akhir-akhir ini pasar cenderung bergerak trending. Berikut 2 contoh pergerakan trending yang kuat dimana trader bisa mengantisipasi pergerakan harga dan do nothing setelah entry :


                         

Pada chart XAU/USD daily diatas, B adalah sinyal berupa pin bar yang mengalami rejection (penolakan) oleh resistance 1319.47. Level resistance ini bisa dianggap cukup kuat setelah sebelumnya diuji 2 kali (A) dan tidak tembus. Pin bar B terkonfirmasi setelah level terendahnya ditembus, dan seperti tampak pada chart daily diatas, pergerakan harga terus bearish hingga beberapa minggu kemudian (C dan D). Antisipasi akan pergerakan trend yang kuat dimulai dari sini, dan entry bisa pada sekitar level terendah pin bar, atau menunggu pin bar terkonfirmasi.

Trader yang khawatir akan exit ketika harga tampak mulai berbalik arah. Namun inside bar yang terbentuk menunjukkan konsolidasi, dan setelah level terendah mother bar ditembus, pergerakan harga kembali kearah downtrend. Kekhawatiran tersebut kurang beralasan karena dengan entry di sekitar level terendah pin bar maka level stop loss yang logis tentunya diatas level resistance, sementara pergerakan yang tampak berbalik arah sebenarnya adalah retracement (koreksi) yang masih jauh dari level stop.



                         

Pada contoh USD/CAD daily diatas, 1.0822 adalah level support yang kuat. Hal ini tampak pada perilaku harga ketika berada atau dekat dengan level ini. A adalah pin bar yang mengalami rejection pada support tersebut yang biasanya mengisyaratkan pergerakan trend yang kuat. Entry buy bisa pada level tertinggi pin bar, atau setelah pin bar terkonfirmasi dengan ditembusnya level tertinggi. Trader yang khawatir akan exit ketika harga tampak mulai retrace dan tampak akan berbalik arah setelah menyentuh support dan mendekati level stop loss yang tentunya dibawah support. Tetapi seperti tampak pada chart diatas, pergerakan harga terus bullish hingga beberapa hari kemudian (C).

Sebagai kesimpulan, Anda seharusnya komit untuk disiplin dengan trade yang Anda lakukan dan tidak melakukan intervensi terhadap posisi trading yang telah Anda buka. Berlatihlah untuk selalu percaya pada trade dan antisipasi yang telah Anda lakukan.

ACUAN TRADING PAKAI PRICE ACTION VS NEWS, PILIH MANA?



Ini dia nih hot topik buat para trader kawakan. Dari sekian lama kita betrading, mana sih acuan trading paling "ngeh" menurut kalian masing-masing? Apakah modal kalian bertrading murni dari berita terhangat atau ketrampilan membaca pola perubahan harga dari price action?

Sebelum loncat sana-sini, kita sepakati dulu kalo acuan bertrading itu pada esensinya berakar dari analisa teknis dan fundamental, dengan kata lain kita tidak usah mendebatkan indikator A sampai Z atau pengaruh inflasi terhadap kebijakan bank sentral, biar saja itu jadi bahasan topik lain.
Kalo gitu acuan trading macem gimana nih yang bakal kita ulas?
Secara garis besar, ada dua macam tipe acuan trading, yaitu; naked chart (chart polosan) dan systematic chart (chart dilengkapi dengan analisa berdasarkan indikator dan berita).

Mau Polosan Atau Pakai Asesoris Lengkap?
Supaya jelas ciri khas, kelebihan dan kekurangan masing-masing acuan trading, kita urai dulu satu per satu:
A) Price Action Setup (plain, naked chart)
Karena notabene chart-nya polosan, sudah pasti sumber informasinya pun terbatas. Fokus informasi tentu saja dari grafik perubahan harga, umumnya pola candlestick jadi senjata utama bagi para trader dengan acuan trading polosan seperti ini.

Eits, karena polosan, bukan cuma trader newbie yang pakai Price Action Setup, master trader seperti Niall Fuller menggadang Price Action Setup sebagai acuan trading terbaik karena kemudahan dan kesederhanaanya.
Kelebihannya, fokus bertrading menjadi terarah karena sumber utama informasi tidak lain adalah grafik perubahan harga itu sendiri, tidak perlu bingung satu sumber informasi kontra atau tumpang tindih dengan informasi lain. Titik utamanya cuma perlu bermodalkan pemahaman Price Action sebagai refleksi kekuatan buyer vs seller dan support-resistance level untuk menentukan entry dan exit.
Kekurangannya, justru trader newbie akan mengalami kesulitan dalam menggunakan acuan trading ini. Kurangnya petunjuk dalam menentukan kapan mereka harus merespon sinyal seringkali menjebak mereka ke dalam posisi tak menguntungkan.
B) News Trading (systematic chart)
News Trading sangat sulit diterapkan ke dalam naked chart, karena mengikuti berita saja biasanya belum tentu cukup untuk menunjukkan kapan trader harus entry dan exit pasar sesuai dengan prediksi. Itulah alasan kenapa news trading bergantung kepada indikator lain untuk mengonfirmasi kontinuitas dan reversal trend.


Indikator momentum oscillator (RSI, MACD, OBV, dll) umumnya menjadi andalan bagi trader dengan dasar news trading. Mereka menggunakan indikator-indikator tersebut untuk memastikan apakah pergerakan harga berubah sesuai sentimen pelaku pasar terhadap berita terbaru atau justru berbalik arah melawan prediksi.
Kelebihannya, penggunaan indikator akan memperjelas sinyal-sinyal untuk membuka dan menutup posisi. Selama trader memiliki sistem pengaturan dan display indikator tertata rapi, bahkan trader newbie bisa langsung "klop" dengan referensi news trading.
Kekurangannya, seringkali fake signal dimunculkan oleh satu indikator terhadap indikator lainnya, bukannya mendapat sinyal jernih, malah terjebak noise, apalagi kalau indikator-indikatornya cuma asal pasang tumpang-tindih sana-sini, buntutnya justru membuat trader bimbang untuk menentukan posisi open dan exit.


Mari Merenung Sejenak
Terlepas dari debat mana acuan trading terbaik (nggak bakal ada ujungnya), tiap trader memiliki kecenderungan untuk berperforma lebih baik dengan acuan trading tertentu, bahkan sah saja jika ada trader yang mengombinasikan news trading dengan bantuan price action sebagai pembantu strategi entry-exit-nya.
Perhatikan bahwa tidak ada kunci absolut atau lembar contekan untuk mencatat rekor trading terbaik. Jalan terbaik untuk menuuju profit konsisten adalah menemukan metode paling sesuai untuk masing-masing trader. Pertanyaannya, kan harus coba-coba dulu tuh, mau pilih yang mana!?