Thursday, December 7, 2017

TRADING FOREX TAK BUTUH BANYAK TEORI



Saya (terlalu) sering dipameri trading system, berbagai macam indikator teknikal, termasuk custom indicatoryang diklaim "paling mantabs deh pokoknya". Awalnya sih saya selalu ingin tahu dan mencoba memahami segala macam trading systemataupun indikator yang dibilang mantabs itu. Tapi, lama-lama… wah.. kok eneg juga yaa. Lagipula, terlalu lama mencoba memahami berbagai macam indikator, atau malahan mencoba mengutak-atik untuk bikin custom indicatorsendiri, saya pikir malahan lumayan menghabiskan waktu juga deh.


Dari belajar berbagai indikator dan mencoba berbagai trading system, akhirnya malahan saya balik lagi pakai naked chart alias candlestick doang. Lah, kalo dipikir-pikir, kok tampilan chart saya malahan sama dengan di bulan pertama saya kenal trading yaa? Trus, apa hasilnya dunks bersusah payah, kadang sampe dibela-belain  lembur sampe dini hari buat belajar berbagai macam indikator?
Kalo mau membela diri sih, saya akan jawab "Ya pasti ada bedanya lah. Dulu nggak pake indikator karena nggak paham. Sekarang nggak pakai indikator karena sudah eneg."
Jadi sebaiknya gimana nih? Apa sekalian gak usah paham satupun indikator? Wehh, ya janganlah, ntar kita dituduh trading berdasarkan untung-untungan alias judi.

Berapa Jumlah Indikator Yang Sebaiknya Dipahami?

Paham beberapa indicator teknikal, menurut saya tetap perlu. Setidaknya nggak kuper-kuper amat kan kalau diajak ngobrol sesama trader. Belajar dari pengalaman saya itu, kalo boleh saya cuma menganjurkan buat teman-teman yang masih dalam tahap belajar trading,sebaiknya nggak usahlah terlalu terpancang untuk mencoba memahami terlalu banyak indikator.
Cukup pahami satu atau dua indikator (atau satu ramuan indikator), tapi usahakan anda paham benar perilaku indikator tersebut. Kenali bener-bener perilakunya, kapan dia ngasih sinyal yang terang benderang, kapan dia ngasih false signal. Yah, daripada tahu banyak indikator tapi nggak paham perilakunya, ntar malahan banyak kejebak false signal melulu.

Boleh Tidak, Coba-coba?

Mencoba-coba aneka macam trading system? Boleh-boleh aja sih, tapi ingat, sebaiknya jangan terlalu asyik gonta-ganti trading system. Kalau sudah bertemu trading systemato sekedar indikator yang dirasakan cocok…ya sudahlah, pakai saja dulu.
Belajar teori tentang trading, termasuk macem-macem indikator jelas perlu. Tapi saya sarankan nggak usah terlalu banyak nguplek di teori doang deh.
Lalu gimana cara belajar trading yang lebih pas? Menurut saya, ramuan belajar trading yang pas adalah: "baca, pelajari, praktekkan, rasakan dan sesuaikan". Terlalu banyak baca teori tanpa praktek cuma bikin eneg doang. Langsung nyemplung praktek alias trading dengan dasar nekad tanpa belajar teori juga bikin kita cenderung jadi gambler.

Beda Trader Yang Banyak Teori Dan Serius Trading

Dari beberapa teman trader yang saya kenal, saya melihat ada kecenderungan, teman trader yang terlalu hobi ngoprek indikator atau EA biasanya memang trading hanya sebagai hobi. Deposit di broker forex, biasanya nggak akan banyak-banyak. Jadi kalo dijadikan uji coba dan berakhir dengan Margin Call (MC) pun nggak akan terlalu nyesel; paling-paling nyengir doang. Mereka banyak menghabiskan waktu tidak hanya untuk trading, tapi juga untuk uji coba berbagai custom indicator, Expert Advisor (EA), , maupun trading system.

Nah, beda dengan teman trader yang trading dengan investasi (deposit) dalam jumlah lumayan besar. Mereka biasanya nggak terlalu banyak bereksperimen dengan macam-macam trading system. Kalo sudah cocok dengan satu cara, sistem, atau indikator; mereka akan cenderung menggunakannya. Mereka menghabiskan waktu hanya untuk trading "beneran", bukan sekedar uji coba sistem.
Saya bukannya bilang kalau membuat custom indicator, EA, atau mencoba berbagai trading system itu hal yang nggak perlu. Kalo memang sudah hobi, meskipun mengorbankan banyak waktu dan tenaga juga nggak terasa pengorbanannya sih. Hanya saja, bagi anda yang trading dengan niat untuk investasi, lebih baik tak usah terlalu banyak berkutat dengan teori ataupun terlalu sibuk bikin custom indicator atau EA sendiri deh.

Saya jadi ingat, waktu saya bilang kalau saya pengen belajar bikin custom indicator dan EA, mentor saya bilang, "buat apa?"

Terus terang, awalnya saya rada tersinggung. Saya pikir, "wah.. underestimate banget nih!
Tapi setelah saya pikir-pikir, mm, benar juga sih, pakai aja indikator yang sudah ada. Lah, kalau terlalu banyak waktu yang bakal saya habiskan buat belajar bikin custom indicator dan EA, ntar kapan tradingnya!?

DASAR STRATEGI BREAKOUT PADA EUR/USD



Dalam trading forex, peristiwa Breakout terjadi ketika harga bergerak keluar (breakout) dari kondisi konsolidasi (sideways) di kisaran tertentu tempatnya telah berada selama beberapa waktu. Breakout juga bisa terjadi ketika harga menembus level support atau resisten tertentu, level Pivot Point, level Fibonacci, dan lain sebagainya.

Ketika seorang trader menjalankan Strategi Breakout, maka targetnya adalah open posisi tepat setelah harga breakout, lalu mempertahankan posisi selama tren berlangsung. Selanjutnya, posisi bisa di-close ketika volatilitas di pasar mereda, atau setelah target profit yang diinginkan telah tercapai.
Tak semua pasangan mata uang di forex cocok untuk trading Breakout. Namun, pergerakan pasangan EUR/USD cocok untuk diterapkan strategi ini. Bagaimana caranya? Berikut ulasan dasar-dasar Strategi Breakout pada EUR/USD.

Trading Breakout Dari Level Rendah Harian

Coba perhatikan grafik EUR/USD di bawah yang telah ditandai dengan level tinggi (high) dan level rendah (low). Menentukan level tinggi dan level rendah ini merupakan fondasi pokok dari trading dengan Strategi Breakout, karena berfungsi untuk mengidentifikasi trend yang sedang berlangsung.


Secara umum, dapat dilihat bahwa harga terus menerus mencetak level tinggi (high) dan level rendah (low) yang makin lama makin rendah dari hari ke hari. Ini menunjukkan kondisi pasar sedang bearish (tren harga menurun), sehingga yang akan dicari di sini adalah peluang harga tembus ke bawah level rendah terakhir (breakout), kemudian pasang posisi Sell.

Pada timeframe Daily, masing-masing candlemenandai pergerakan harian. Untuk itu, kita perhatikan candle hari terakhir pada chart, di mana level rendah (low) terakhir tercatat dekat 1.28783. Artinya, breakout terjadi jika harga tembus ke bawah level tersebut.

Dalam trading dengan Strategi Breakout, Trader akan membuka order Sell tepat pada level tersebut, atau beberapa poin di bawahnya. Sedangkan Stop Loss dapat dipasang pada angka setara dengan harga tertinggi pada candle acuan tadi, atau pada level highsebelumnya di antara 1.3100-1.3200.

Trading Breakout Dari Moving Average

Moving Average (MA) merupakan indikator teknikal yang menunjukkan rata-rata bergerak harga, sekaligus menandai apakah kondisi pasar sedang bullish atau sedang bearish. Jika harga berada di atas Moving Average, berarti sedang bullish. Sedangkan jika harga di bawahnya, berarti sedang bearish.

Oleh karena itu, garis MA juga sering dijadikan ambang batas breakout. Apabila harga bergerak ke bawah MA, berarti mensinyalkan peluang Sell. Sedangkan jika harga bergerak ke atas MA, berarti mensinyalkan peluang Buy.

Namun demikian, sebagaimana pada contoh kasus pertama tadi, langkah awal dalam Strategi Breakout ini adalah mengidentifikasi apakah pasar sedang bearish atau bullish. Berikut ini contohnya:


Pada gambar di atas, Simple Moving Average (SMA) dengan periode 200 (close price) diterapkan pada chart EUR/USD timeframe Daily (D1). SMA 200-Day ini sering digunakan oleh perusahaan-perusahaan investasi besar (hedge fund) sebagai acuan level Support penting. Apabila harga tembus (breakout) ke bawah garis SMA 200-Day, maka itu sering dianggap sebagai awal dari reli bearish yang cukup signifikan.

Sekarang, jika dilihat pada chart, ada level tinggi (high) yang makin lama makin rendah. Sebagaimana contoh sebelumnya, ini adalah indikasi kondisi pasar bearish. Kondisi tersebut bertepatan dengan harga yang bergerak mendekati SMA 200-Day, sehingga trader bisa segera memasang Pending Order untuk Sell di kisaran level Support pada 1.4000.
Untuk target profit, trader dapat menggunakan Rasio Risk/Reward 1:2, dengan Stop Loss ditempatkan di atas level tinggi (high) terakhir.

Mudah bukan, Strategi Breakout pada EUR/USD ini? Cobalah praktekkan di platform trading Anda sendiri. Selain pada pasangan EUR/USD, teknik ini juga bisa coba diterapkan pada pasangan mata uang lainnya yang pergerakannya sedang trending.

Tuesday, December 5, 2017

SAATNYA MENJADI LONG TERM TRADER

Jika Anda mengikuti saya dalam beberapa waktu, Anda bisa tahu bahwa saya adalah pendukung besar dalam bertrading forex secara long term. Ada sejumlah alasan mengapa saya percaya bahwa long term trading dapat  membawa kita lebih sukses daripada menggunakan time frame kecil dalam bertrading, dan saya akan tunjukkan beberapa alasan tersebut dalam artikel ini.
Hal pertama yang ingin saya lakukan adalah, mengklarifikasi bahwa ketika saya berbicara long term, maka saya maksudkan untuk melihat pada chart minimal Daily (D1).
Saya banyak mendengar orang-orang mengatakan "Saya mulai melirik trading long term karena scalpingtidak berhasil bagi saya, Saya sekarang menggunakan strategi long termdan bertrading dengan chart/grafik Hourly (H1)". Lihatlah, saya pikir pernyataan di atas banyak terjadi pada para trader sehingga tidak heran mengapa begitu banyak yang kesulitan untuk menjadi profitable.
Atas beberapa alasan, kebanyakan para trader terutama pemula akan bermain dalam short term dan scalping. Mereka bahkan tidak mengetahui bagaimana trading Long Term yang sebenarnya. Jadi sekali lagi perlu saya tegaskan, jika kita berbicara tentang long term trading, berarti kita berbicara tentang penggunaan Chart Weekly bahkan Monthly, dan kemudian menggunakan time frame yang lebih kecil untuk eksekusi trading agar lebih presisi.
Sebelum kita masuk ke strategi yang sebenarnya, terlebih dahulu saya akan sharing. Bahwa perspektif yang benar sangat penting ketika bertrading strategi long term. Saya tahu bahwa kebanyakan Anda hanya memperdulikan tentang panduan strategi aktual, tapi saya percaya bahwa informasi berikut tentang perspektif dan pendekatan menyeluruh sebenarnya lebih penting daripada strategi itu sendiri.
Sebagai contoh bagaimana "Short Term Mindset" bisa memberikan masalah besar, mari kita lihat pada EUR/USD berikut. Pada grafik 4HR EUR/USD dibawah, orang akan melihat seperti ini:


Dalam grafik di atas, Anda melihat bahwa ada banyak momentum bullish bergerak menuju puncak yang semakin tinggi. Dari perspektif ini, tampak semua continuation bullish set-up akan menjadi entry yang hebat. Namun, dalam pandangan long term pada waktu yang persis sama, memberikan cerita yang berbeda: 


Long term trader dengan chart weekly, melihat bahwa EUR / USD masih dalam long term downtrend, dan bahwa rally bullish pada grafik 4HR hanyalah sekedar pullback. Bahkan itu adalah pullback menuju resistance tak terduga (tak terduga jika Anda hanya melihat secara short/mid term dan tidak menyadari apa yang sedang terjadi pada long term).
Jika kita bergerak sedikit menuju waktu selanjutnya, Anda dapat melihat pantulan bearish dari level resistance. Bagi trader yang melihat grafik 4HR, hal ini mungkin terlihat seperti waktu yang tepat untuk membeli lagi dalam mengantisipasi kelanjutan trend Bullish.



Apa yang short term trader mungkin tidak sadari adalah, bahwa ini bukanlah pull back dari uptrend 4HR, melainkan kelanjutan dari downtrend long term. Dan harga terus bergerak turun hingga 2 minggu! Setelah menyaksikan apa yang terjadi, bagi trader 4HR, ini tampak seperti sebuah reversal besar tak terduga di market. Sedangkan bagi trader long term, itu adalah kelanjutan yang jelas (downtrend continuation) yang sudah diharapkan sesuai flow market, tampak seperti inilah pada pandangan weekly: 



Inilah sebabnya mengapa sangat penting untuk memiliki perspektif long term dari market TERUTAMA jika Anda akan menyebut diri seorang long term trader. Sekali lagi, begitu banyak orang melihat grafik 4HR berpikir mereka long term trader, tetapi mereka mengabaikan time frame long term yang sebenarnya yang dapat membuat Anda mendapat masalah besar seperti dalam contoh kehidupan nyata. Dua bar candle weekly bearish tersebut diatas akan menghancurkan para trader yang mencoba untuk mengambil posisi long pada pandangan short term.
Sekarang, saya tidak mengatakan bahwa Anda tidak bisa trading menguntungkan pada grafik 1HR atau 4HR. Yang saya katakan adalah bahwa sangat sulit untuk melakukan trading profit secara konsisten bila Anda tidak memiliki perspektif yang baik mengenai pergerakan market long term, terutama ketika mencoba untuk bertrading dalam short/mid term. Dengan demikian, mari kita bicara tentang strategi long term untuk trader yang ingin menjadi lebih profitable dan konsisten!
Satu catatan penting tentang strategi ini adalah bahwa Anda harus disiplin jika Anda ingin sukses.Ya, Anda perlu disiplin dengan semua strategi untuk mengharapkan sukses, tetapi terutama, jika Anda ingin trading strategi long term secara efektif, Anda harus mengontrol emosi dan keinginan untuk masuk ke market.
Salah satu kesalahan terbesar yang para unprofitable trader lakukan adalah over trading dan over-controltrading mereka. Sebagai manusia, kita selalu ingin open posisi atau malah selalu ingin memanipulasi OP trading tersebut, padahal tindakan-tindakan semacam itu hanya akan menyebabkan berkurangnya profitabilitas.
Jika Anda ingin sukses menggunakan strategi long term, Anda harus mampu menerima bahwa tidak akan ada banyak entri (yang merupakan hal yang baik, menurut pendapat saya), dan tidak ada peluang masuk market berulang-ulang.


Berikut adalah 6 langkah cara mengaplikasikan strategi long term :
1. Lihatlah pada chart/grafik monthly dan weekly untuk mengamati perilaku harga dalam pergerakan bulanan dan minnguannya. Carilah tren pada grafik long term tersebut yang memiliki arah dan momentum yang baik. Misalnya seperti ini : 



Identifikasi arah tren, bullish atau bearish. Kemudian harus diperhatikan untuk hanya mencari entri atau Open Position (OP) sesuai arah tren tersebut saja. Misalnya itu adalah tren bearish, maka carilah peluang untuk OP Sell saja, jangan mencari entry buy (ingat kita akan bermain long term). Dan tidak perlu memanfaatkan riak gelombang kecil naik turunnya pergerakan harga seperti halnya yang dilakukan Short Term Trader.
2. Zoom ke dalam Grafik Daily/ harian dan gambarlah Garis Fibonacci retracement dari tinggi ke rendah saat ini (atau sebaliknya).


 3.Carilah pullbacks pada Frame Time Daily tersebut yang mendekati 38,2; 50,0; atau 61,8 Level Fibbonacci. Jika harga semakin dekat dengan salah satu dari 3 Level Kunci Fibbonacci tersebut, bersiaplah untuk entri / OP.
4.Carilah Candlestick entry setelah Level fibbonacci ditest (tersentuh oleh Harga).
Segera setelah harga menyentuh Level fibbonacci Weekly, Anda sekarang dalam mode "menunggu sinyal". Dengan kata lain, kriteria telah terpampang untuk Anda untuk bertrading, sekarang semua yang Anda butuhkan adalah sinyal untuk mengkonfirmasi.
Untuk strategi ini, sinyalnya adalah Candle bar momentum daily sesuai arah trend long term kita. Sebuah daily Candle sinyal yang ideal memiliki ekor yang telah mengetest (menyentuh level fibbonacci), dan kemudian berbalik kembali ke arah sesuai trend.



TEST LEVEL FIBBONACCI
5. Saatnya Entry / OP. Tempatkan stop dan target.
Selalu Gunakan ratio TP:SL = 3:1 , minimal 2:1
Pada chart weekly, Gambarlah garis Bantu Horizontal line pada area Support dan resistance dimana candle-candle periode sebelumnya memantul, Letakkan SL diatas Line resistance 1. Jika harga mampu menembus Line Support 1, kunci profit dengan memindah SL diatas Line. Jika harga mampu menembus Line Support 2, kunci profit dengan memindah SL diatas garis Line tersebut dst.
6. Tunggu Profit atau Loss.
Beberapa trading akan profit dan beberapa bisa loss. Jangan mencoba untuk mengelola trading atau mengutak atiknya. Cukup percayalah pada strategi dan biarkan trading menjadi winner atau loser. Trading adalah tentang perhitungan dimana strategi yang baik memang memiliki profit dan loss. Tapi pada akhir tahun, profit jauh lebih besar daripada loss. Semuanya akan tetap dalam strategi jika Anda mengikutinya dengan disiplin!
Satu catatan penting, Anda harus disiplin jika Anda ingin sukses. Anda harus mengontrol emosi dan keinginan untuk masuk ke market. Salah satu kesalahan terbesar yang para unprofitable trader lakukan adalah over trading dan over-control trading mereka.
Anda harus mampu menerima bahwa tidak akan ada satu ton entri (yang merupakan hal yang baik, menurut pendapat saya), tidak ada peluang masuk market berulang-ulang dan tidak perlu ada kebutuhan untuk "melompat" ke dalam OP dan mengutak atiknya.