Tuesday, December 5, 2017

SAATNYA MENJADI LONG TERM TRADER

Jika Anda mengikuti saya dalam beberapa waktu, Anda bisa tahu bahwa saya adalah pendukung besar dalam bertrading forex secara long term. Ada sejumlah alasan mengapa saya percaya bahwa long term trading dapat  membawa kita lebih sukses daripada menggunakan time frame kecil dalam bertrading, dan saya akan tunjukkan beberapa alasan tersebut dalam artikel ini.
Hal pertama yang ingin saya lakukan adalah, mengklarifikasi bahwa ketika saya berbicara long term, maka saya maksudkan untuk melihat pada chart minimal Daily (D1).
Saya banyak mendengar orang-orang mengatakan "Saya mulai melirik trading long term karena scalpingtidak berhasil bagi saya, Saya sekarang menggunakan strategi long termdan bertrading dengan chart/grafik Hourly (H1)". Lihatlah, saya pikir pernyataan di atas banyak terjadi pada para trader sehingga tidak heran mengapa begitu banyak yang kesulitan untuk menjadi profitable.
Atas beberapa alasan, kebanyakan para trader terutama pemula akan bermain dalam short term dan scalping. Mereka bahkan tidak mengetahui bagaimana trading Long Term yang sebenarnya. Jadi sekali lagi perlu saya tegaskan, jika kita berbicara tentang long term trading, berarti kita berbicara tentang penggunaan Chart Weekly bahkan Monthly, dan kemudian menggunakan time frame yang lebih kecil untuk eksekusi trading agar lebih presisi.
Sebelum kita masuk ke strategi yang sebenarnya, terlebih dahulu saya akan sharing. Bahwa perspektif yang benar sangat penting ketika bertrading strategi long term. Saya tahu bahwa kebanyakan Anda hanya memperdulikan tentang panduan strategi aktual, tapi saya percaya bahwa informasi berikut tentang perspektif dan pendekatan menyeluruh sebenarnya lebih penting daripada strategi itu sendiri.
Sebagai contoh bagaimana "Short Term Mindset" bisa memberikan masalah besar, mari kita lihat pada EUR/USD berikut. Pada grafik 4HR EUR/USD dibawah, orang akan melihat seperti ini:


Dalam grafik di atas, Anda melihat bahwa ada banyak momentum bullish bergerak menuju puncak yang semakin tinggi. Dari perspektif ini, tampak semua continuation bullish set-up akan menjadi entry yang hebat. Namun, dalam pandangan long term pada waktu yang persis sama, memberikan cerita yang berbeda: 


Long term trader dengan chart weekly, melihat bahwa EUR / USD masih dalam long term downtrend, dan bahwa rally bullish pada grafik 4HR hanyalah sekedar pullback. Bahkan itu adalah pullback menuju resistance tak terduga (tak terduga jika Anda hanya melihat secara short/mid term dan tidak menyadari apa yang sedang terjadi pada long term).
Jika kita bergerak sedikit menuju waktu selanjutnya, Anda dapat melihat pantulan bearish dari level resistance. Bagi trader yang melihat grafik 4HR, hal ini mungkin terlihat seperti waktu yang tepat untuk membeli lagi dalam mengantisipasi kelanjutan trend Bullish.



Apa yang short term trader mungkin tidak sadari adalah, bahwa ini bukanlah pull back dari uptrend 4HR, melainkan kelanjutan dari downtrend long term. Dan harga terus bergerak turun hingga 2 minggu! Setelah menyaksikan apa yang terjadi, bagi trader 4HR, ini tampak seperti sebuah reversal besar tak terduga di market. Sedangkan bagi trader long term, itu adalah kelanjutan yang jelas (downtrend continuation) yang sudah diharapkan sesuai flow market, tampak seperti inilah pada pandangan weekly: 



Inilah sebabnya mengapa sangat penting untuk memiliki perspektif long term dari market TERUTAMA jika Anda akan menyebut diri seorang long term trader. Sekali lagi, begitu banyak orang melihat grafik 4HR berpikir mereka long term trader, tetapi mereka mengabaikan time frame long term yang sebenarnya yang dapat membuat Anda mendapat masalah besar seperti dalam contoh kehidupan nyata. Dua bar candle weekly bearish tersebut diatas akan menghancurkan para trader yang mencoba untuk mengambil posisi long pada pandangan short term.
Sekarang, saya tidak mengatakan bahwa Anda tidak bisa trading menguntungkan pada grafik 1HR atau 4HR. Yang saya katakan adalah bahwa sangat sulit untuk melakukan trading profit secara konsisten bila Anda tidak memiliki perspektif yang baik mengenai pergerakan market long term, terutama ketika mencoba untuk bertrading dalam short/mid term. Dengan demikian, mari kita bicara tentang strategi long term untuk trader yang ingin menjadi lebih profitable dan konsisten!
Satu catatan penting tentang strategi ini adalah bahwa Anda harus disiplin jika Anda ingin sukses.Ya, Anda perlu disiplin dengan semua strategi untuk mengharapkan sukses, tetapi terutama, jika Anda ingin trading strategi long term secara efektif, Anda harus mengontrol emosi dan keinginan untuk masuk ke market.
Salah satu kesalahan terbesar yang para unprofitable trader lakukan adalah over trading dan over-controltrading mereka. Sebagai manusia, kita selalu ingin open posisi atau malah selalu ingin memanipulasi OP trading tersebut, padahal tindakan-tindakan semacam itu hanya akan menyebabkan berkurangnya profitabilitas.
Jika Anda ingin sukses menggunakan strategi long term, Anda harus mampu menerima bahwa tidak akan ada banyak entri (yang merupakan hal yang baik, menurut pendapat saya), dan tidak ada peluang masuk market berulang-ulang.


Berikut adalah 6 langkah cara mengaplikasikan strategi long term :
1. Lihatlah pada chart/grafik monthly dan weekly untuk mengamati perilaku harga dalam pergerakan bulanan dan minnguannya. Carilah tren pada grafik long term tersebut yang memiliki arah dan momentum yang baik. Misalnya seperti ini : 



Identifikasi arah tren, bullish atau bearish. Kemudian harus diperhatikan untuk hanya mencari entri atau Open Position (OP) sesuai arah tren tersebut saja. Misalnya itu adalah tren bearish, maka carilah peluang untuk OP Sell saja, jangan mencari entry buy (ingat kita akan bermain long term). Dan tidak perlu memanfaatkan riak gelombang kecil naik turunnya pergerakan harga seperti halnya yang dilakukan Short Term Trader.
2. Zoom ke dalam Grafik Daily/ harian dan gambarlah Garis Fibonacci retracement dari tinggi ke rendah saat ini (atau sebaliknya).


 3.Carilah pullbacks pada Frame Time Daily tersebut yang mendekati 38,2; 50,0; atau 61,8 Level Fibbonacci. Jika harga semakin dekat dengan salah satu dari 3 Level Kunci Fibbonacci tersebut, bersiaplah untuk entri / OP.
4.Carilah Candlestick entry setelah Level fibbonacci ditest (tersentuh oleh Harga).
Segera setelah harga menyentuh Level fibbonacci Weekly, Anda sekarang dalam mode "menunggu sinyal". Dengan kata lain, kriteria telah terpampang untuk Anda untuk bertrading, sekarang semua yang Anda butuhkan adalah sinyal untuk mengkonfirmasi.
Untuk strategi ini, sinyalnya adalah Candle bar momentum daily sesuai arah trend long term kita. Sebuah daily Candle sinyal yang ideal memiliki ekor yang telah mengetest (menyentuh level fibbonacci), dan kemudian berbalik kembali ke arah sesuai trend.



TEST LEVEL FIBBONACCI
5. Saatnya Entry / OP. Tempatkan stop dan target.
Selalu Gunakan ratio TP:SL = 3:1 , minimal 2:1
Pada chart weekly, Gambarlah garis Bantu Horizontal line pada area Support dan resistance dimana candle-candle periode sebelumnya memantul, Letakkan SL diatas Line resistance 1. Jika harga mampu menembus Line Support 1, kunci profit dengan memindah SL diatas Line. Jika harga mampu menembus Line Support 2, kunci profit dengan memindah SL diatas garis Line tersebut dst.
6. Tunggu Profit atau Loss.
Beberapa trading akan profit dan beberapa bisa loss. Jangan mencoba untuk mengelola trading atau mengutak atiknya. Cukup percayalah pada strategi dan biarkan trading menjadi winner atau loser. Trading adalah tentang perhitungan dimana strategi yang baik memang memiliki profit dan loss. Tapi pada akhir tahun, profit jauh lebih besar daripada loss. Semuanya akan tetap dalam strategi jika Anda mengikutinya dengan disiplin!
Satu catatan penting, Anda harus disiplin jika Anda ingin sukses. Anda harus mengontrol emosi dan keinginan untuk masuk ke market. Salah satu kesalahan terbesar yang para unprofitable trader lakukan adalah over trading dan over-control trading mereka.
Anda harus mampu menerima bahwa tidak akan ada satu ton entri (yang merupakan hal yang baik, menurut pendapat saya), tidak ada peluang masuk market berulang-ulang dan tidak perlu ada kebutuhan untuk "melompat" ke dalam OP dan mengutak atiknya.

 



Tuesday, November 21, 2017

TIP TRADING PADA MATA UANG UTAMA USDCHF



Meski perekonomian negara Swiss relatif kecil, namun mata uang resminya menjadi salah satu dari empat besar mata uang utama dunia; mencerminkan pengakuan dunia terhadap kekuatan dan kualitas perekonomian dan keuangan negara ini. Swiss Franc adalah mata uang resmi negara Swiss. Swiss Franc disimbolkan dengan CHF (Confederatio Helvetica Franc) dan kerap dijuluki "Swissy"

4. USD/CHF
Volume perdagangan USD/CHF berkisar 5% dari total volume perdagangan pasar forex dunia dan kini menempati urutan ke-5 setelah EUR/USD, USD/JPY, GBP/USD dan AUD/USD. Secara umum, Swiss Franc dipercaya sebagai mata uang yang stabil karena beberapa faktor. Antara lain sejarah mata uang Franc yang sangat panjang, kebijakan politik negara Swiss yang netral, sistem keuangan yang sangat prudent, dan perlindungan yang maksimum terhadap kerahasiaan investor.


Dengan reputasinya tersebut, Swiss telah berhasil menjadikan mata uangnya sebagai tempat yang aman (safe haven) untuk berinvestasi. Jika terjadi ketidakpastian politik global, para pelaku pasar akan mengalihkan investasinya dalam Swiss Franc disamping emas. Oleh karena itu, nilai mata uang ini sangat sensitif terhadap keluar-masuk aliran modal yang disebabkan oleh perubahan sentimen risiko investor.
Jika terjadi merebak sentimen investor menghindari risiko (risk aversion) akibat kekhawatiran pasar akan ketidakpastian ekonomi global, maka Swiss Franc cenderung menguat. Sedangkan bila risiko dan ketidakpastian mereda, maka kenaikan CHF akan menyusut pula.

Profil Ekonomi Swiss
Tingkat pengangguran Swiss cukup rendah, dengan GDP per kapita yang lebih besar dari negara-negara tetangganya di Eropa Barat. Namun, tingkat likuiditas CHF tidak sebaik mata uang utama lainnya, dan memiliki daya beli (purchasing power) yang rendah, sehingga lebih banyak digunakan sebagai cadangan devisa di berbagai negara.
USD/CHF mempunyai korelasi yang kuat dengan EUR/USD dengan pola pergerakan harga yang hampir mirip. Oleh karenanya, trader Euro-Dollar sering memilih Swissie untuk hedging (locking). Namun jika permintaan Swiss Franc sangat tinggi akibat sentimen pasar, maka USD/CHF bisa lebih volatile dari EUR/USD.

Pematokan (Pegging) Nilai Tukar CHF Terhadap EUR
Sejak peluncuran mata uang Euro, bank sentral Swiss (Swiss National Bank/SNB) selalu menjaga nilai tukar Swiss Franc terhadap Euro (EUR/CHF), karena mayoritas partner dagang negara Swiss adalah negara-negara dalam zona Euro. Sejak tahun 2003, SNB memberi toleransi pergerakan EUR/CHF pada kisaran 1.50 sampai 1.60. Karenanya, para trader selalu mencermati komentar petinggi SNB jika levelnya mendekati nilai toleransi tersebut, untuk mengetahui apakah SNB menganggapnya wajar atau akan menjalankan kebijakan lain.
Akibat krisis utang Yunani yang berkepanjangan, banyak investor yang beralih ke mata uang safe haven hingga menyebabkan Swissie terus menguat baik terhadap US dollar maupun Euro. Hingga pada Maret 2011 USD/CHF menembus level 0.9 dan Juni 2011 di level 0.833.
Dengan alasan bahwa penguatan Swiss Franc yang terus berlanjut merupakan ancaman ekonomi, Swiss National Bank (SNB) pada tanggal 6 September 2011 mematok nilai tukar Swiss Franc terhadap Euro menjadi EUR/CHF=1.20 atau 1 EUR=1.20 CHF. Kebijakan ini dilakukan setelah sebelumnya SNB memangkas tingkat suku bunganya menjadi 0.125% per tahun (per 3 Agustus 2011). Hal ini cukup membingungkan para trader forex dan menyebabkan Swiss Franc sempat melemah terhadap hampir semua mata uang utama.



Profil USD/CHF
  • Sering digunakan sebagai pasangan mata uang hedging (locking) terhadap EUR/USD.
  • Karena tingkat suku bunganya yang sangat rendah, USD/CHF populer sebagai pilihan untuk  melakukan carry trade.
  • Pergerakan rata-rata per hari: sekitar 120 pip.
  • Aktif diperdagangkan mulai dari jam buka pasar Eropa hingga pertengahan sesi perdagangan New York (sekitar jam 3 AM sampai 10 AM EST atau jam 15 sampai jam 22 WIB)

Faktor Yang Menggerakkan Nilai USD/CHF
  • Ketegangan politik global, terutama peristiwa yang kurang menguntungkan Amerika Serikat akan membuat pelaku pasar mengalihkan investasinya pada Swiss Franc sebagai salah satu aset safe haven. Aset safe haven lainnya antara lain Emas dan Yen Jepang.
  • Diluar pematokan terhadap Euro, kebijakan moneter bank sentral Swiss (SNB) lainnya pun sangat berpengaruh terhadap nilai tukar CHF.
  • Harga emas: karena nilai Swiss Franc sebagian masih di-backup oleh emas, maka perubahan harga emas akan berpengaruh langsung pada nilai tukarnya.

Rilis Data Fundamental Yang Perlu Diperhatikan Dalam Trading USD/CHF
  1. FOMC statement atau pengumuman tingkat suku bunga Amerika Serikat. Jika FOMC menaikkan suku bunga, Dolar AS akan menguat. Demikian pula sebaliknya, bila FOMC menurunkan suku bunga AS, maka USD akan melemah.
  2. Data Non Farm Payrolls Amerika Serikat, yang merilis jumlah tenaga kerja baru di luar bidang kerja pertanian dan dirilis setiap bulan di hari Jumat minggu pertama. Jika rilis aktual lebih besar dari prediksi (forecast), biasanya US dollar akan menguat.
  3. FOMC meeting minutes: laporan hasil pertemuan para anggota FOMC yang memberi gambaran tentang tingkat suku bunga The Fed yang akan datang. Jika tingkat suku bunga diramalkan akan naik, US dollar akan menguat.
  4. SNB Monetary Policy Assessment, atau SNB Statement, yaitu pengumuman tingkat suku bunga oleh The Swiss National Bank (SNB). Laporan ini dirilis tiap kwartal dan akan berdampak langsung pada nilai nilai tukar Swiss Franc. Jika hasil rilis lebih baik dari perkiraan, maka CHF akan menguat.
  5. LIBOR 3-month rate, yaitu tingkat suku bunga London 3 bulanan untuk deposito Swiss Franc yang dirilis tiap kwartal. Jika hasil rilis lebih besar dari prediksi, maka CHF akan menguat.
  6. KoF Economic Barometer, atau Swiss KoF Leading Indicators, yaitu index komposit berdasarkan survey dari berbagai sektor (industri, retail dan distributor besar) untuk memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 6 bulan ke depan. Dirilis tiap bulan, dan jika hasilnya lebih besar dari prediksi, maka Swiss Franc akan menguat.
  7. CPI  m/m, atauConsumer Price Index per bulan sebelumnya. CPI bulan lalu (dirilis tiap bulan) merupakan indikator awal laju inflasi dan digunakan bank sentral sebagai salah satu acuan dalam menentukan tingkat suku bunga. Hasil rilis yang lebih besar dari prediksi akan berdampak pada kemungkinan kenaikan tingkat suku bunga.
Selain itu, perlu dicermati juga pidato dari para petinggi bank sentral (SNB Governing Board member atau Chairman-nya). Demikian pula pidato-pidato dari bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang isi pidatonya sangat berdampak pada nilai nilai tukar USD/CHF.

TIP TRADING PADA MATA UANG EURUSD



Trading pada pasangan mata uang US Dollar memberi kesempatan kepada trader untuk berpartisipasi dalam pergerakan siklus ekonomi global. Jika ingin diversifikasi modal selain US Dollar, kita bisa buy Euro (EUR/USD). Jika percaya perekonomian Jepang bakalan tumbuh pesat, kita akan buy Yen (USD/JPY); atau jika terjadi ketegangan politik global, kita sebaiknya buy Swiss Franc (USD/CHF).
Dalam seri tulisan ini akan dibahas apa saja yang seharusnya diperhatikan trader jika trading pada empat pasangan mata uang utama dalam pasar forex, yaitu: EUR/USD, USD/JPY, GBP/USD dan USD/CHF. 

1. Trading Pada EUR/USD
Sering jadi headline dalam berita pasar forex dunia, pasangan mata uang EUR/USD boleh jadi adalah yang paling populer di dunia. Sejak mulai diperdagangkan di tahun 2000, nilai dan volume perdagangannya terus meningkat. Walaupun terjadi koreksi penurunan sepanjang tahun 2005, namun nilai Euro kembali menguat terhadap US Dollar pada awal tahun 2006 dan mencapai rekor tertingginya di level 1.6 per US Dollar pada pertengahan tahun 2008.



Saat ini pergerakan harganya cukup bergejolak (volatile) dengan kecenderungan menurun sejak krisis utang negara-negara Zona Euro terjadi pada pertengahan 2008 yang sampai kini belum tuntas. Walaupun demikian, EUR/USD masih menjadi pasangan mata uang yang paling populer dan paling besar volume perdagangannya dalam pasar forex dunia.

Mata uang Euro disebut juga sebagai "anti-dollar" karena sangat sensitif terhadap data perekonomian Amerika Serikat. Karena ketidak-pastian ekonomi Amerika Serikat saat ini, pelaku pasar selalu mencermati perkembangan langkah-langkah Amerika Serikat untuk memulihkan (recovery) perekonomiannya. Kekhawatiran akan lebih memburuknya ekonomi Amerika Serikat, kebijakan The Fed (bank sentral Amerika Serikat) atau pemerintah Federal yang mungkin kurang populer, akan memberi dampak positif pada nilai mata uang Euro.

Profil EUR/USD
  • Sangat sensitif terhadap data perekonomian Amerika Serikat.
  • Perekonomian Amerika Serikat sangat bergantung pada import minyak. Oleh karenanya, perubahan harga minyak dunia akan berdampak langsung pada nilai US Dollar, yang tentunya berdampak juga pada EUR/USD.
  • Pergerakan rata-rata per hari: sekitar 120 pip.
  • Cenderung untuk berkonsolidasi (membentuk pola sideway/ranging) setelah terjadi trending yang cukup kuat.
  • Bergantung pada strategi kita, EUR/USD cukup bagus untuk ditradingkan pada semua time frame.

Kapan Waktu Tepat Untuk Trading EUR/USD?
Walaupun EUR/USD aktif diperdagangkan 24 jam, tetapi waktu yang paling efektif untuk trading mata uang ini adalah ketika jam kerja perbankan Eropa dan Amerika Serikat terjadi bersamaan (overlap) yaitu sekitar jam 7:00 EST hingga jam 11:00 EST. 
Catatan: Waktu EST (Eastern Standard Time) = GMT - 5 jam = WIB - 12 jam (Nopember - Maret).
Untuk Maret-Nopember WIB lebih cepat 11 jam, karena menerapkan DST (Daylight Saving Time).
Bagi trader pasangan mata uang utama lainnya, EUR/USD bisa dijadikan tolok ukur yang menggambarkan keadaan perekonomian Amerika Serikat terhadap negara-negara lain.

Apa Saja Yang Menggerakkan Nilai EUR/USD?
Seperti telah disebutkan diatas, EUR/USD sangat sensitif terhadap data perekonomian Amerika Serikat, oleh karenanya jika terjadi perubahan indikator ekonomi Amerika Serikat yang mengejutkan atau di luar prediksi dan harapan para pelaku pasar, akan sangat berdampak pada Euro, terutama data-data mengenai pertumbuhan, tenaga kerja dan data mengenai pemulihan perekonomian Amerika Serikat.
  • Isu mata uang Euro sebagai cadangan devisa alternatif: Penggunakan mata uang Euro dalam upaya diversifikasi cadangan devisa beberapa negara, akan menguatkan nilainya terhadap US dollar.
  • Perubahan tingkat suku bunga : Jika ECB menaikkan tingkat suku bunganya, maka nilai Euro akan menguat. Sebaliknya, jika The Fed menaikkan tingkat suku bunga, nilai US dollar menguat maka akan berdampak langsung pada melemahnya nilai Euro.
  • Neraca perdagangan : Karena negara-negara utama dalam zona Euro masuk dalam jajaran 10 besar eksportir dunia (data tahun 2011: Jerman no.3, Perancis dan Belanda no.5 dan 6, Italia no.8), dan juga termasuk dalam 10 besar importir dunia (data WTO 2011: Jerman no.3, Perancis no.5, Italia no.7, Belanda no.9), maka jika terjadi surplus atau defisit pada neraca perdagangan zona Euro akan sangat mempengaruhi nilai Euro. Selain itu, tentu saja data neraca perdagangan Amerika Serikat akan berdampak langsung pada nilai Euro.

Rilis Data Fundamental Yang Perlu Diperhatikan Dalam Trading EUR/USD
Berikut data-data fundamental yang berdampak langsung dan harus dicermati saat kita trading EUR/USD:
  • FOMC rate decision, sering disebut FOMC statement atau pengumuman kebijakan bank sentral Amerika Serikat, termasuk diantaranya suku bunga acuan. Jika The Fed menaikkan suku bunga US Dollar akan menguat, dan sebaliknya.
  • Data Non Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat, yang merilis jumlah tenaga kerja baru di luar bidang kerja pertanian. Dirilis setiap bulan di hari Jumat minggu pertama, data ini sangat berdampak langsung pada nilai US Dollar dan yang selalu ditunggu para trader. Biasanya jika rilis aktual lebih besar dari prediksi (forecast), maka US Dollar akan menguat, dan sebaliknya.
  • FOMC meeting minutes: laporan hasil pertemuan para anggota FOMC yang sudah diadakan dua minggu sebelumnya. Notulen ini biasanya diharapkan akan memberi gambaran tentang tingkat suku bunga The Fed yang akan datang. Jika tingkat suku bunga cenderung akan naik, US dollar akan menguat dan sebaliknya.
  • ECB rate decision: pengumuman tingkat suku bunga dari ECB (European Central Bank) yang dijadwalkan tiap bulan ini tentu saja akan berdampak langsung pada nilai Euro. Jika hasil rilis lebih besar dari prediksi, maka Euro akan menguat, dan sebaliknya.
  • IFO business climate survey, adalah index komposit yang didasarkan pada hasil survey dari berbagai manufaktur, building, distributor besar, dan pedagang eceran yang merupakan indikator keadaan ekonomi Jerman sebagai negara terbesar perekonomiannya di zona Euro. Jika hasil rilis lebih besar dari prediksi Euro, maka akan menguat dan sebaliknya.
  • European trade balance atau neraca perdagangan zona Euro. Jika hasil rilis defisit, maka nilai Euro akan melemah; sebaliknya jika hasilnya adalah peningkatan surplus, maka Euro akan menguat.
  • German unemployment, atau data pengangguran di Jerman. Indikator yang dirilis setiap bulan ini bisa dianggap sebagai gambaran tingkat pengangguran secara keseluruhan di zona Euro. Hasil rilis yang lebih kecil dari prediksi akan berdampak postif pada nilai Euro, dan sebaliknya.
  • European GDP: Gross Domestic Product adalah hasil output produksi sebagai indikator pertumbuhan ekonomi suatu kawasan. Jika hasil rilis lebih besar dari prediksi, maka nilai Euro akan menguat, dan sebaliknya.
Selain itu, perlu dicermati juga momen-momen pidato dari para petinggi bank sentral, baik dari Federal Reserve (The Fed) selaku bank sentral AS, maupun ECB. Isi pidato-pidato tersebut bisa berdampak langsung pada nilai Euro, khususnya pada pasangan mata uang EUR/USD.